Jumat, 02 Desember 2011

ALIRAN PERENIALISME

1. Hakikat Perennialisme
. Perennialisme di ambil dari kata perennial yang di artikan sebagai throughout the whole year atau lasting for a very long time, yakni abadi atau kekal dan baqa, yang terus dan tanpa akhir. Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif . Aliran ini dianggap sebagai “regresisive road to culture” yakni jalan kembali, atau mundur kepada kebudayaan masa lampau.
Esensi aliran ini berupaya menerapkan nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat kekal dan abadi yang selalu seperti itu sepanjang sejarah manusia, maka perennialisme dianggap sebagai suatu aliran yang ingin kembali atau mundur kepada nilali-nilai kebudayaan masa lampau.
Perennialisme melihat bahwa akibat dari kehidupan zaman modern telah menimbulkan krisis di berbagai bidang kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi krisis ini perennialisme memberikan jalan keluar berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau, untuk menghadapi problematika kehidupan manusia masa sekasrang.
Oleh sebab itu maka perennialisme memandang penting perenan pendidikan dalam proses mengambalikan keadaaan manusia zaman sekarang ini kepada kebudayaan masa lampau yang di anggap cukup ideal dan yang telah terpuji ketangguhannya. Kembali kepada masa lampau dalam konteks aliran ini, bakanlah dalam pengertian bernostalgia dan sekedar mengingat-ingat kembali pola kehidupan masa lalu, tetapi untuk membina kembali keyakinan akan nilali-nilai asasi masa silam untuk menghadapi problema kehidupan saat sekarang dan bahkan sampai kapan pun di mana pun.
Walaupun perennialisme lebih dekat dengan Esentialisme dan menetang Progresifisme, namun Perennialisme juga tetap tidak puas dengan Esensialisme. Dan inti perbedaan itu adalah prinsip yang dipegang oleh Perennialist yang religius (teologis) yang agama oriented sebagai lawan dari mereka yang secular oriented .
Menurut AK Coomaraswamy filsafat perennialisme dimaksudkan sebagai pengetahuan yang selalu ada dan akan selalu ada, yang bersifat universal. Ada dalam pengertian di antara orang-orang yang berbeda ruang dan waktu maupaun yang berkaitan dengan prinsip-prinsip universal. Di samping itu, pengetahuan yang diperoleh intelak ini terdapat dalam jantung semua agama dan tradisi. Menurut Huxley, prinsip-prinsip dasar filsafat Perennial dapat ditemukan di antara legenda-legenda dan kitos kuno yang berkembang dalam mesnyarakat primititf di seluruh penjuru dunia. Suatu versi dan kesamaan tertinggi dalam teologi-teologi, dulu dan kini.
Dalam perjalanan sejarahnya, perennialisme berkembang dalam dua sayap yang berbeda, yaitu dari golongan teologis yang ingin menegakkan supremasi ajaran agama, dan dari kelompok sekuler yang berpegang teguh pada ajaran filsafat Plato dan Aristoteles.

2. Dasar Filosifis Perennialisme
Dasar pemikiran filsafat perennialisme ini terlihat dari keyakinan ontologis mereka tentang manusia dan alam. Aliran ini memandang bahwa hakikat manusia sebagai mahluk rasional yang akan selalu sama bagi setiap manusia dimanapun dan sampai kapan pun dalam pengembangan historisitasnya.
Aliran ini berkeyakinan, bahwa kendatipun dalam lingkungan dan tempat yang berbeda, hakikat manusia tetap menunjukkan kesamaannya. Oleh karena itu, pola dan corak pendidikan yang sama dapat diterapkan kepada siapapun dan dimana pun ia berada. Menurut Hutchins (1953) sekalipun terdapat perbedaan lingkungan namun sifat hakiki manusia selalu sama sehingga semua orang memerlukan pendidikan yang sama. Dengan kata lain bahwa system atau tujuan pendidikan untuk semua warga adalah relative sama. Yaitu untuk “meningkatkan harkat manusia sebagai manusia”.
Tugas pendidikan disini adalah bagaimana menjadikan dan memajukan manusia-manusia yang ada pada suatu masyarakat sehingga ia menjadi amnusia yang utuh, yaitu manusia yang memiliki kekuatan berpikir. Pendeknya, hakikatnya adalah upaya memanusiakan manusia sebagai manusia yang memiliki kekuatan dalam berfikir.
Pendidikan dalam teori ini dimaknai sebagai suatu aktivitas yang mengaksentuasikan programnya pada perubahan-peruibahan dan perbaikan-perbaikan. Aristoteles sebagai salah satu tokoh yang menjadi rujukan alira ini menekankan, bahwa melatih dan membiasakan diri merupakan hal yang mendasar bagi pengembangan kualitas manusia. Oleh karena itu, kesadaran disipilin mesti di tanamkan sejak dini.

3. Implementasi Perennialisme dalam pendidikan
Perkembangan konsep-konsep perennialis banyak di pengaruhi oleh tokoh-tokoh berpengaruh seperti Plato, Aristoteles dan Thomas Aquino.
a. Menurut Plato ilmu pengetahuan dan nilai sebagai manispestasi dan hukum universal yang abadi dan ideal sehingga ketertiban social hanya akan mungkin di capai bila ide itu menjadi tolak ukur yang memiliki asas normative dalam semua aspek kehidupan. Menurut psikologi Plato, manusia secara kodrati memiliki 3 potensi, yaitu nafsu, kemauan dan akal. Ketiga potensi ini akan tumbuh dan berkembang melalui pendidikan. Perimbangan ketiga potensi ini tidak sama pada setiap individu. Jelasnya ada:
1. Manusia yang besar potensi rasionya, inilah manusia kelas pemimpin, kelas sosial yang tertinggi,
2. Manuisa yang besar atau dominan potensi kemauannya, ialah manusia prajurit, kelas menengah,
3. Manusia yang dominan potensi nnafsunya, ialah kelas rakyat jelata, kaum pekerja.
Pendidikan harus berorientasi kepada asas psikologis ini sekaligus berorientasi kepada masyarakat, yakni untuk memenuhi ketiga kelas masyarakat itu.

b. Menurut Aristoteles tujuan pendidikan adalah kebahagiaan, melalui pengembangan kemampuan-kemampuan kerohaniahan seperti emosi, kognisi seerta jasmani manusia.


c. Menurut Thomas Aquinas, tujuan pendidikan sebagai usaha untuk merealisasikan kapasitas dalam tiap individu manusia sehingga menjadi aktualitas. Out-put yang di harapkan menurut perennialisme adalah manusia mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Tugas seorang pendidik adalah mempersiapkan peserta didik kematangan intelektual. Dengan intelektualnya peserta didik dapat hidup bahagia demi kebaikan kehidupanya sendiri.

4. Pandangan Pendidikan Islam Terhadap Perennialisme

a. Perennialisme dalam konteks pendidikan di bangun atas dasar satu dasar keyakinan ontologisnya bahwa batang tubuh pengetahuan yang berlangsung dalam ruang dan waktu ini mestilah terbentuk melalui dasar-dasar pendidikan yang diterima manusia dalam kesejarahannya. Roebert M Hutchins, salah satu tokoh perennial menyimpulkan bahwa tugas pokok pendidikan adalah pengajaran. Pengajaran menunjukkan pengetahuan, sedangkan pengetahuan itu sendiri adalah kebenaran. Kebenaran pada setiap manusia adalah sama oleh karena itu dimana pun dan kapan pun ia akan selalu sama. Prinsip dasar pendidikan bagi aliran perennials adalah membantu peserta didik menemukan dan menginternalisasikan kebenaran abadi, karena memang kebebnarannya mengandung sifat universal dan tetap. Kebenaran yang seperti ini hanya akan di peroleh melalui latihan intelekttual yang dapat menjadikan pikirannya teratur dan tersistematis sedemikian rupa.
b. Aliran ini meyakini bahwa pendidikan adalah transfer ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang abadi. Filsafat pendidikan Islam memandang bahwa suatu kebenaran yang abadi dan hakiki datangnya dari Allah, maka untuk mendapatkan kebenaran tersebut pendidikan harus mengacu pada wahyu Allah. Dalam filsafat pendididkan Islam pendidikan mestilah mencari pola agar peserta didik dapat menyesuaikan diri bukan pada kebenaran di dunia saja, tapi kebenaran abadi yang datang dari Allah.
Di samping itu, proses pendidikan tidak hanya transfer ilmu tetapi juga transformasi ilmu dan internalisasi nilai.
Makna hakiki dari belajar, menurut aliran ini adalah belajar untuk berfikir , dengan berfikir anak akan memiliki senjata ampuh dalm menghadapi berbagai tintangan yang akan menurunkan martabat kemanusiaannya, seperti kebodohan, kebingungan dan keragu-raguan.
Ketika seorang anak memiliki kegagalan dalam belajar, maka para guru mestilah tidak menempatkan kesalahan pada kondisi yang tidak menggembirakan atau perlakuan psikologis yang tidak memguntungkan. Tugas guru sesungguhnya adalah menyelesaikan berbagai persoalan itu melalui pendekatan intelektual dalam belajar yang sama bagi semua peserta didik.
c. Perennialisme membedakan belajar kepada dua wilayah besar, yaitu wilayah pengajaran dan wilayah penemuan. Yang pertama belajar memerlukan bantuan guru. Guru memberikan pengetahuan dan pencerahan kepada subjek-subjek didik, baik cara menunjukkan maupun menafsirkan implikasi dari pengetahuan yang di berikan. Sedangakan yang kedua, tidak membutuhkan guru, karena peserta didik dalam pola ini diharapkan telah dapat belajara tas kemampuannya sendiri. Karena tugas pokok guru menurut aliran ini adalah mempersiapkan peserta didik kearah pematangan rasional dalam menghadapi berbagai problema dan kesulitan kehidupan.
Berdasarkan konsep diatas, maka Perennialisme lebih cenderung pada subjek centred dalam kurikulum maupun dalm metode pembelajaran. Dalam kurikulum akan terlihat materi-materi yang mengarah pada kepentingan dan kebutuhan subjek didiknya dalam menumbuhkembangkan potensi berfikir, kreatif yang dimilikinya, sedangkan dalam metode pembelajran perennialisme mengutamakan metode yang selalu memberikan kebebasan berfikir perserta didik melalui metode diskusi, problem solving, penelitian dan penemuan.
d. Perennialisme berpandangan bahwa meskipun substansi semua agama itu sama, tapi kehadiran substansi akan selalu di batasi dan fungsinya akan terkait dengan bentuk, sehingga secara eksoterik dan operasional akan berbeda antara agama yang satu dengan yang lain.
Kehadiran agama memang tidak lepas dari dimensi waktu dan sejarah, namun substansi agama yang berasal dari yang mutlak tidak berlaku untuk kategori waktu manusia. Keberadaan Tuhan adalah keberadaan Mutlak, maka terbebas dari relativitas ruang dan waktu. Oleh karena itu, dalam filsafat pendidikan Islam kebenaran yang mutlak hanya terdapat dalam ajaran Islam, sedangkan agama selain Islam kebenarannya bersifat relatif karena di batasi oleh ruang dan waktu.

5. Teori Belajar Menurut Perenialisme

Teori dasar dalam belajar menurut Perennilsme terutama:

1. Mental dicipline sebagai teori dasar
Penganut perennialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berfikir (mental dicipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar. Kareana itu teori dan program pendidikan pada umumnya di pusatkakn pada pembinaan kemampuan berfikir. Teori brlajar ini tidak hanya secara psikologis berpsngkal pada kepercayaan tentang daya jiwa, potensi-potensi jiwa, tetapi juga secara filosofis bersumber pada asas hylomorphisme- potensialitas menuju aktualitas.

2. Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan
Perennialisme menekankan prinsip utama, bahwa manusia, baik secara jenis maupun martabatnya berbeda dengan semua mahluk alam lain. Perebedaan ini tidak adapat dibuktikan dengan sience, melainkan dengan berfikir spekulatif, dengan filsafat. Perwujudan dan fungsi rasionalitas manusia adalah self-evident, bahwa seseorang tak mungkin lagi melawan eksistensi akal rasio tanpa mempergunakan rasio itu sendiri. Ini adalah hukum pertama yanga kan tetap benar, di segala waktu dan tempat, bahwa manusia adalah mahluk rasional.
Prinsip rasionalitas manusia ini melhairkan prinsip kedua yang utama juga, yakni asas kemerdekaan. Pengertian kemerdekaan, kesadaran atas makna dan nilai kemerdekaan hanya dapat dibina melalui pendidikan. Asas berfikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pemdidikan; otoritas pendidikan harus disempurakan sesempurna mungkin. Dan makana kemerdekaan pendidikan ialah membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, sebagai esential self yang membedakannya dari pada mahluk lainnya.



3. Learning to Reason (Belajar untuk Berpikir)
Perennialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to eason menjadi tujuan utama pendidikan.

4. Belajar sebagai persiapan hidup
Bagi Thomisme, belajar untuk berfikir dan belajar untuk persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama, yakni menuju kesempurnaan hidup, kehidupan duniawi mwnuju nkehidupan syurgawi.

5. Learning through Teaching (Belajar melalui Pengajaran)
Fungsi guru menurut Perennilisme berbeda dengan pandangan Esentialisme, yang menyatakan bahwa guru sebagai perantara antara bahan dengan anak yang melakukan penyerapan. Menurut Perennialisme tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self discovery dan ia melakukan moral authority (otoritas moral) atas murid-muridnya, karena ia adalah seorang profesional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar