A. Pengertian Pembelajaran
Kegiatan belajar tidak tepisahkan dengan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membantu siswa agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pembelajaran merupakan usaha sadar dan disengaja
2. Pembelajaran merupakan pemberian bantuan yang memungkinkan siswa dapat belajar
3. Pembelajaran kebih menekankan pada pengaktifan siswa karena yang belajar adalah siswa.
B. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Ada 9 kategori tipe-tipe hasil belajar khusus yaitu:
1. Pengetahuan
2. Pengertian
3. Aplikasi
4. Keterampilan berfikir
5. Keterampilan umum
6. Sikap
7. Minat
8. Apresiasi
9. Penyesuaian diri.
Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswadibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Faktor internal
• Aspek fisik, misalnya kesehatan organ tubuh
• Aspek psikis, misalnya intelektual, emosional dan motivasi
• Aspek sosial, misalnyakemampuan bersosialisasi dengan lingkungan.
b. Faktor eksternal, misalnya iklim/cuaca, suasana lingkungan, tingkat kesulitan bahan belajar, tempet belajar, metode pembelajaran yang digunakan, dan sebagainya.
C. Pengajaran Matematika
Dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran Matematika mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah agar siswa:
1. Memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika
2. Memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan ke pendidikan menengah
3. Memeiliki keterampilan matematika sebagai peningkatan dan perluasan dari matematika sekolah dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari
4. Memiliki pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap logis, kritis, cermat dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika’
Pencapaian tujuan pembelajaran dapat diusahakan melalui pengajaran matematika yang bertahap dan terarah yang mempermudah dalam belajar mengajar.
D. Hakikat Proses Belajar Mengajar Matematika
Untuk memahami pengertian proses belajar mengajar matematika, kita uraikan dulu istilah proses, belajar, mengajar dan matematika.
Proses dalam pengertian di sini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam ikatan untuk mencapai tujuan. Sedangkan definisi belajar menurut beberapa pendapat adalah:
1. Menurut Slameto, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungannya.
2. Menurut Sudjana, belajar adalah suatu perubahan yang relative permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari pRaktek atau latihan
3. Menurut Winkel, belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan linkungan yang menghasilkan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap serta perubahan relative konstan dan berbekas.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dialami oleh individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Perubahan yang terjadi dapat berupa perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar.
Mengajar adalah usaha guru untuk menciptakan kondisipelajaran dan sebagainya yang disebut proses belajar, sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Matematika adalah pelajaran yang memerlukan pemusatan pikiran untuk mengingat dan mengenal kembali semua aturan yang ada dan harus dipenuhi untuk menguasai materi yang dipelajarI.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa, di mana perubahan tingkah laku siswa diarahkan pada peningkatan kemampuan dalam mempelajari matematika, sedangkan guru dalam mengajar harus pandai mencari pendekatan pembe;jaran yang akan membantu siswa dalam kegiatan belajarnya.
E. Hakikat Model Pembelajaran RME ( Realistic Mathematic Education )
1. Pengertian RME
RME diperkenalkan oleh Freudenthal di Belanda pada tahun 1973. Berikut ini akan dijelaskan pengertian RME:
RME adalah suatu pendekatan di mana matematika dipandang sebagai suatu kegiatan manusia.
RME adalah pendekatan pembelajaran yang bertolak dari hal-hal yang real bagi siswa, menekankan keterampilan proses of doing mathematic, berdiskusi dan berkolaburasi, beragumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan diri sendiri dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok.
RME merupakan model pembelajaran yang menempatkan realitas dan lingkungan siswa sebagai titik awal pembelajaran.
RME menurut Gravermeijer bahwa ide utama dari RME adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa.
Secara teori RME mempunyai 5 karakteristik yaitu:
1. Penggunaan real konteks sebagai titik tolak belajar matematika
2. Penggunaan model yang menekankan penyelesaian secara informal sebelum menggunakan cara formal atau rumus
3. Mengaitkan sesame topic dalam matematika
4. Menggunakan metode interaktif dalam nelajar matematika
5. Menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa
2. Ciri-ciri model pembelajaran RME
• Matematika dipandang sebagai kegiatan manusia sehari-hari sehingga dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari
• Belajar matematika berarti bekerja dengan matematika
• Siswa diberi kesmpatan untuk menemukan konsep-konsep matematika di bawah bimbingan orang dewasa ( guru )
• Proses belajar mengajar berlangsung secara interaktif dan siswa menjadi fokus dari semua aktivitas di kelas
• Aktivitas dilakukan meliputi menemukan masalah kontekstual, memecahkan masalah, dan mengorganisir bahan belajar.
Pembelajaran dengan menerapkan medel pembelajaran RME selain mempelajari dalam arah verikal ( proses dalam matematika itu sendiri ) juga mempelajari dalam arah horizontal meliputi pembuatan skema, merumuskan dan menggambarkan masalah dalam cara yang berbeda, menemukan hubungan dan keterkaitan mengungkapkan jawabannya. Melalui diskusi kelas jawaban siswa dibahas atau dibandingkan dan guru membantu menganalisa jawaban siswa. Jawaban siswa mungkin salah semua, mungkin juga benar semua atau sebagian benar dan sebagian salah. Jika jawaban benar maka guru hanya menegaskan jawaban tersebut. Jika jawaban salah guru secara tidak langsung memberitahu letak kesalahan siswa yaitu dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa yang menjawab soal atau siswa lainnya. Selanjutnya siswa dapat memperbaiki jawabannya dari hasil diskusi, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan.
Rabu, 23 November 2011
Senin, 21 November 2011
PEMBELAJARAN LANGSUNG
a. Pengertian Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung ini dirancang untuk mengenalkan siswa terhadap mata pelajaran guna meningkatkan penguasaan berbagai keterampilan yang dapat diajarkan secara langkah demi langkah. Pengajaran langsung identik dengan pengajaran ceramah. Memang pengajaran langsung didesain berorientasi pada guru mengelola pelajaran. Pengajaran langsung merupakan salah satu model yang dirancang khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajarai.
Menurut Silbernam, strategi pembelajaran langsung melalui berbagai pengetahuan secara aktif merupakan cara untuk mengenalkan siswa kepada materi pelajaran yang akan diajarkan. Guru juga dapat menggunakannya untuk menilai tingkat pengetahuan siswa sambil melakukan kegiatan pembentukan tim. Cara ini cocok pada segala ukuran kelas dengan materi pelajaran apapun
b. Ciri-ciri Pembelajaran Langsung
Model pemebelajaran langsung memiliki cirri-ciri seperti berikut :
1) Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh pada siswa termasuk prosedur penelitian hasil belajar
2) Fase atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
3) Sistem penegelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil
c. Fase – fase Pengajaran Langsung
Pada setiap model pengajaran memiliki fase atau fase – fase pengajaran yang berbeda antara satu model pengajaran dengan model pengajaran yang lain. Model pengajaran langsung memiliki lima fase yang sangat penting. Kelima fase dalam pengajaran langsung dapat dijelaskan seperti berikut :
1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
a) Menjelaskan Tujuan
Para siswa perlu mengetahui dengan jelas mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pelajaran tertentu, dan mereka perlu mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran itu.
b) Menyiapkan siswa
Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari. Tujuan ini dapat dicapai dengan jalan mengulang pokok – pokok pelajaran yang lalu atau memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa tentang pokok – pokok pelajran yang lalu.
2. Mendemonstrasikan Pengetahuan atau Keterampilan
a) Menyampaikan Informasi dengan jelas
Kejelasan informasi atau persentasi yang dibererikan guru kepada siswa dapat dicapai melalui perencanaan dan pengorgansasian pembelajaran dengan baik. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi/presentasi adalah :
(1) Kejelasan tujuan dan poin – poin utama
(2) Presentasi selangkah demi selangkah
(3) Prosedur spesifik dan konkrit
(4) Pengecekan untuk pemahaman siswa
(5) Melakukan Demontrasi
Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari berasal dari pengamatan orang lain. Agar dapat mendemonstrasikan suatu keterampilan atau konsep yang berhasil, guru perlu sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasi untuk menguasai komponen – komponennya.
3. Menyediakan Latihan Terbimbing
Salah satu tahap penting dalam pengajaran langsung adalah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan “pelatihan terbimbing.” Keterlibtan secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar berlangsung dengan lancar dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang baru atau penuh tekanan. Beberapa prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan bagi guru dalam menerapkan dan melakukan pelatihan adalah seperti berikut :
a) Tugas siswa melakukan latihan singkat dan bermakna
b) Berikan pelatihan sampai benar – benar menguasai konsep/keterampilan yang dipelajari
c) Hati – hati terhadap kelebihan dan kelemahan latihan berkelanjutan dan latihan berdistribusi
d) Perhatikan tahap – tahap awal pelatihan.
4. Menganalisis Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik
Beberapa pedoman dalam memberikan umpan balik efektif yang patut dipertimbangkan oleh guru seperti berikut :
a) Berikan umpan balik segera mungkin setelah latihan
b) Upayakan agar umpan balik jelas dan spesifik
c) Kosentrasi pada tingkah laku, dan bukan pada maksud
d) Jaga umpan balik sesuia dengan tingkat perkembangan siswa
e) Berikan pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar
f) Apabila memberikan umpan balik yang negatif, tunjukkan bagaimna melakukan dengan benar
g) Bantulah siswa memusatkan perhatiannya pada “proses” dan bukan pada “hasil”
h) Ajari siswa cara memberi umpan balik kepada dirinya sendiri, dan bagaimana menilai kinerja sendiri
5. Memberikan Kesempatan Latihan Mandiri
Tiga panduan umum latihan mandiri yang diberikan sebagai pekerjaan rumah sebagai berikut :
a) Tugas rumah yang diberikan bukan merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran, tetapi merupakan kalanjutan pelatihan atau persiapan untuk pembelajaran berikutnya
b) Guru seyogyanya menginformasikan kepada orang tua siswa, tentang tingkat keterlibatan yang diharapkan
c) Guru seharusnya memberikan umpan balik tentang pekerjaan rumah tersebut.
d. Elemen – Elemen Utama Pengajaran Langsung Yang Efektif
Mengajar seluruh kelas saja tidak cukup untuk mewujudkan pengajaran yang efektif, beberapa kondisi yang harus dipenuhi untuk memastikannya yaitu seperti :
1) Pelajaran yang distrukturisasikan dengan jelas
Pelajaran harus memilki struktur yang jelas, sehingga murid dapat memahami dengan mudah isi pelajaran itu dengan hubungannya dengan apa yang telah mereka ketahui. Selama pelajaran guru perlu menekankan poin – poin kunci pelajaran, agar tidak kehilangan arah. Pengulangan dalam jumlah tertentu tidak ada ruginya untuk dilakukan. Pada akhir pelajaran poin – poin utama harus dirangkum sekali lagi, baik oleh guru atau lebih oleh murid sendiri.
2) Presentasi yang terstruktur dan jelas
Didalam struktur keseluruhan ini disarankan agar materinya dipresentasikan dalam langkah – langkah kecil yang dipaskan dengan tingkat murid, yang kemudian dipraktikkan, sebelum dilanjutkan kelangkah berikutnya. Guru perlu mengfokuskan pada poin demi poin, menghindari sikap melantur.
3) Pacing
Pacing pelajaran adalah bagian penting dari pengajaran langsung yang efektif meskipun bukan tanpa kontoversi. Keuntungan cara ini dianggap terletak pada momentum dapat dipertahankannya dan dimungkinkannya isi dalam jumlah relatif besar untuk diproses. Tetapi kemudian ditemukan bahwa meskipun ini tampaknya merupakan cara terbaik untukmengajarkan keterampilan –keterampilan dasar tingkat rendah dan untuk mengajar murid –murid yang lebih muda, dikelas – kelas yang lebih tinggi dan untuk isi pelajaran yang lebih banyak menuntut, kecepatannya perlu diperendah untuk memberikan lebih banyak waktu kepada murid untuk mengembangkan pemahaman.
4) Tanya Jawab
Salah satu bagian krusial dari pengajaran langsung adalah interaktif Questioning ( tanya jawab interaktif ). Karena pentingnya tanya jawab interaktif bagi pengajaran efektif.
e. Kelemahan dan keterbatasan pengajaran langsung
Pengajarang langsung adalah salah satu diantara strategi-strategi mengajar paling efektif yang ada, pengajaran langsung merupakan metode terbaik untuk mengajarkan tentang aturan, prosedur dan keterampilan dasar, sedangkan masalah pengajaran langsung adalah bahwa peran mungkin menjadi terlalu pasif, yang menyebabkan ketergantungan yang terlau tinggi kepada guru dan kurang berkembangnya keterampilan belajar mandiri.
Pembelajaran langsung ini dirancang untuk mengenalkan siswa terhadap mata pelajaran guna meningkatkan penguasaan berbagai keterampilan yang dapat diajarkan secara langkah demi langkah. Pengajaran langsung identik dengan pengajaran ceramah. Memang pengajaran langsung didesain berorientasi pada guru mengelola pelajaran. Pengajaran langsung merupakan salah satu model yang dirancang khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajarai.
Menurut Silbernam, strategi pembelajaran langsung melalui berbagai pengetahuan secara aktif merupakan cara untuk mengenalkan siswa kepada materi pelajaran yang akan diajarkan. Guru juga dapat menggunakannya untuk menilai tingkat pengetahuan siswa sambil melakukan kegiatan pembentukan tim. Cara ini cocok pada segala ukuran kelas dengan materi pelajaran apapun
b. Ciri-ciri Pembelajaran Langsung
Model pemebelajaran langsung memiliki cirri-ciri seperti berikut :
1) Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh pada siswa termasuk prosedur penelitian hasil belajar
2) Fase atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
3) Sistem penegelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil
c. Fase – fase Pengajaran Langsung
Pada setiap model pengajaran memiliki fase atau fase – fase pengajaran yang berbeda antara satu model pengajaran dengan model pengajaran yang lain. Model pengajaran langsung memiliki lima fase yang sangat penting. Kelima fase dalam pengajaran langsung dapat dijelaskan seperti berikut :
1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
a) Menjelaskan Tujuan
Para siswa perlu mengetahui dengan jelas mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pelajaran tertentu, dan mereka perlu mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran itu.
b) Menyiapkan siswa
Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari. Tujuan ini dapat dicapai dengan jalan mengulang pokok – pokok pelajaran yang lalu atau memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa tentang pokok – pokok pelajran yang lalu.
2. Mendemonstrasikan Pengetahuan atau Keterampilan
a) Menyampaikan Informasi dengan jelas
Kejelasan informasi atau persentasi yang dibererikan guru kepada siswa dapat dicapai melalui perencanaan dan pengorgansasian pembelajaran dengan baik. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi/presentasi adalah :
(1) Kejelasan tujuan dan poin – poin utama
(2) Presentasi selangkah demi selangkah
(3) Prosedur spesifik dan konkrit
(4) Pengecekan untuk pemahaman siswa
(5) Melakukan Demontrasi
Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari berasal dari pengamatan orang lain. Agar dapat mendemonstrasikan suatu keterampilan atau konsep yang berhasil, guru perlu sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasi untuk menguasai komponen – komponennya.
3. Menyediakan Latihan Terbimbing
Salah satu tahap penting dalam pengajaran langsung adalah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan “pelatihan terbimbing.” Keterlibtan secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar berlangsung dengan lancar dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang baru atau penuh tekanan. Beberapa prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan bagi guru dalam menerapkan dan melakukan pelatihan adalah seperti berikut :
a) Tugas siswa melakukan latihan singkat dan bermakna
b) Berikan pelatihan sampai benar – benar menguasai konsep/keterampilan yang dipelajari
c) Hati – hati terhadap kelebihan dan kelemahan latihan berkelanjutan dan latihan berdistribusi
d) Perhatikan tahap – tahap awal pelatihan.
4. Menganalisis Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik
Beberapa pedoman dalam memberikan umpan balik efektif yang patut dipertimbangkan oleh guru seperti berikut :
a) Berikan umpan balik segera mungkin setelah latihan
b) Upayakan agar umpan balik jelas dan spesifik
c) Kosentrasi pada tingkah laku, dan bukan pada maksud
d) Jaga umpan balik sesuia dengan tingkat perkembangan siswa
e) Berikan pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar
f) Apabila memberikan umpan balik yang negatif, tunjukkan bagaimna melakukan dengan benar
g) Bantulah siswa memusatkan perhatiannya pada “proses” dan bukan pada “hasil”
h) Ajari siswa cara memberi umpan balik kepada dirinya sendiri, dan bagaimana menilai kinerja sendiri
5. Memberikan Kesempatan Latihan Mandiri
Tiga panduan umum latihan mandiri yang diberikan sebagai pekerjaan rumah sebagai berikut :
a) Tugas rumah yang diberikan bukan merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran, tetapi merupakan kalanjutan pelatihan atau persiapan untuk pembelajaran berikutnya
b) Guru seyogyanya menginformasikan kepada orang tua siswa, tentang tingkat keterlibatan yang diharapkan
c) Guru seharusnya memberikan umpan balik tentang pekerjaan rumah tersebut.
d. Elemen – Elemen Utama Pengajaran Langsung Yang Efektif
Mengajar seluruh kelas saja tidak cukup untuk mewujudkan pengajaran yang efektif, beberapa kondisi yang harus dipenuhi untuk memastikannya yaitu seperti :
1) Pelajaran yang distrukturisasikan dengan jelas
Pelajaran harus memilki struktur yang jelas, sehingga murid dapat memahami dengan mudah isi pelajaran itu dengan hubungannya dengan apa yang telah mereka ketahui. Selama pelajaran guru perlu menekankan poin – poin kunci pelajaran, agar tidak kehilangan arah. Pengulangan dalam jumlah tertentu tidak ada ruginya untuk dilakukan. Pada akhir pelajaran poin – poin utama harus dirangkum sekali lagi, baik oleh guru atau lebih oleh murid sendiri.
2) Presentasi yang terstruktur dan jelas
Didalam struktur keseluruhan ini disarankan agar materinya dipresentasikan dalam langkah – langkah kecil yang dipaskan dengan tingkat murid, yang kemudian dipraktikkan, sebelum dilanjutkan kelangkah berikutnya. Guru perlu mengfokuskan pada poin demi poin, menghindari sikap melantur.
3) Pacing
Pacing pelajaran adalah bagian penting dari pengajaran langsung yang efektif meskipun bukan tanpa kontoversi. Keuntungan cara ini dianggap terletak pada momentum dapat dipertahankannya dan dimungkinkannya isi dalam jumlah relatif besar untuk diproses. Tetapi kemudian ditemukan bahwa meskipun ini tampaknya merupakan cara terbaik untukmengajarkan keterampilan –keterampilan dasar tingkat rendah dan untuk mengajar murid –murid yang lebih muda, dikelas – kelas yang lebih tinggi dan untuk isi pelajaran yang lebih banyak menuntut, kecepatannya perlu diperendah untuk memberikan lebih banyak waktu kepada murid untuk mengembangkan pemahaman.
4) Tanya Jawab
Salah satu bagian krusial dari pengajaran langsung adalah interaktif Questioning ( tanya jawab interaktif ). Karena pentingnya tanya jawab interaktif bagi pengajaran efektif.
e. Kelemahan dan keterbatasan pengajaran langsung
Pengajarang langsung adalah salah satu diantara strategi-strategi mengajar paling efektif yang ada, pengajaran langsung merupakan metode terbaik untuk mengajarkan tentang aturan, prosedur dan keterampilan dasar, sedangkan masalah pengajaran langsung adalah bahwa peran mungkin menjadi terlalu pasif, yang menyebabkan ketergantungan yang terlau tinggi kepada guru dan kurang berkembangnya keterampilan belajar mandiri.
MOTIVASI BELAJAR
a. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata motif (motive), dalam bahasa inggrisnya motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Maka, dapat dikatakan bahwa Motivasi merupakan pendorong bagi seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Dengan motivasi seseorang akan terdorong untuk melakukan aktivitas belajar dengan baik.
Sebagaimana yang diungkapkan Ngalim Purwanto, motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang. Ia menyangkut soal mengapa individu bertingkah laku, berpikir, dan memiliki perasaan dengan cara yang mereka lakukan, dengan penekanan pada aktivasi dan arah pada tingkah laku. Dan Sardiman juga menyatakan, motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu.
Sedangkan motivasi belajar merupakan penggerak atau pendorong bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Sebagaimana Martinis Yamin mengungkapkan, motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan dan pengalaman.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki subjek belajar itu dapat tercapai. Karena, makin tinggi dan berarti suatu tujuan, dan makin besar motivasinya akan semakin kuat kegiatan yang akan dilaksanakan. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Perannya yang khas adalah dalam hal menumbuhkan gairah, merasa senang, dan semangat untuk belajar.
b. Prinsip Motivasi
Prinsip-prinsip motivasi adalah memberi penguatan, sokongan dan arahan pada pelaku yang erat kaitannya dengan prinnsip-prinsip dalam pembelajaran yang telah ditemui para ahli ilmu belajar. Masalah pokok yang dihadapi mengenai belajar adalah proses belajar. Karena belajar merupakan suatu proses yang rumit dan unik. Kita hanya mengamati prilaku belajarnya, dan hanya dapat mengamati terjadi perubahan prilaku tersebut setelah dilakukan penelitian.
c. Ciri-ciri motivasi
Menurut Sardiman ciri-ciri motivasi yang ada pada diri seseorang adalah
1) Tekun dalam menghadapi tugas.
2) Ulet menghadapai kesulitan.
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4) Lebih senang bekerja mandiri.
5) Cepat bosan dengan tugas-tugas yang rutin.
6) Dapat mempertahankan pendapatnya.
7) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.
8) Senang mencari dan memecahkan masalah.
Dan Arden N. Frandsen mengatakan bahwa, hal yang mendorong seseorang itu untuk belajar antara lain sebagai berikut.
1) Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas;
2) Adanya sifat kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;
3) Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman;
4) Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan di masa yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetensi;
5) Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman;
6) Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.
d. Pembagian Motivasi
Jika dilihat dari sumbernya, maka motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik (Intrinsic Motivation) dan motivasi ekstrinsik (Ekstrinsic Motivation).
1) Motivasi Intrinsik (Intrinsic Motivation)
Menurut Sardiman, motivasi intrinsik ini adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut Santrock, motivasi instrinsik adalah keinginan dari dalam diri untuk menjadi kompeten dan melakukan sesuatu demi usaha itu sendiri. Dan dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsik itu semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam proses belajar motivasi intrinsik memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena motivasi intrinsik relatif lebih lama.
Menurut Arden N. Frandsen, yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah
a) Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas,
b) Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju,
c) Adanya keinginan untuk mencapai prestasi,
d) Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
2) Motivasi Ekstrinsik (Ekstrinsic Motivation).
Menurut Sardiman, motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Dan menurut Santrock, motivasi ekstrinsik adalah keinginan untuk mencapai sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan penghargaan atau menghindari hukuman. Maka motivasi eksrinsik itu juga disebut faktor dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, dan lainnya.
Beberapa motivasi belajar ekstrinsik menurut Winkel di antaranya adalah, sebagai berikut.
a) Belajar demi memenuhi kewajiban.
b) Belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan.
c) Belajar demi memperoleh hadiah materil yang disajikan.
d) Belajar demi meningkatkan gengsi.
e) Belajar demi memperoleh pujian dari orang.
f) Belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang.
Maka motivasi intrinsik dan ekstrinsik inilah yang akan dikembangkan oleh peneliti, khususnya motivasi dalam belajar matematika.
e. Fungsi Motivasi
Sardiman mengemukakan beberapa fungsi motivasi dalam proses pembelajaran :
1) Mendorong manusia untuk berbuat atau melakukan sesuatu
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah mana tujuan yang akan dicapai
3) Memiliki strategi untuk mencapai sukses
4) Membuat siswa berani berpartisipasi
5) Membangkitkan hasrat ingin tahu pada siswa
6) Menyempurnakan perhatian siswa
Di samping itu Hamzah B. Uno mengatakan, hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa petunjuk yang meliputi :
1) Adanya hasrat dan keinginan berhasil
2) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar
3) Adanya harapan dan cita-cita masa depan
4) Adanya penghargaan dalam belajar
5) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar
6) Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.
Motivasi berasal dari kata motif (motive), dalam bahasa inggrisnya motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Maka, dapat dikatakan bahwa Motivasi merupakan pendorong bagi seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Dengan motivasi seseorang akan terdorong untuk melakukan aktivitas belajar dengan baik.
Sebagaimana yang diungkapkan Ngalim Purwanto, motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang. Ia menyangkut soal mengapa individu bertingkah laku, berpikir, dan memiliki perasaan dengan cara yang mereka lakukan, dengan penekanan pada aktivasi dan arah pada tingkah laku. Dan Sardiman juga menyatakan, motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu.
Sedangkan motivasi belajar merupakan penggerak atau pendorong bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Sebagaimana Martinis Yamin mengungkapkan, motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan dan pengalaman.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki subjek belajar itu dapat tercapai. Karena, makin tinggi dan berarti suatu tujuan, dan makin besar motivasinya akan semakin kuat kegiatan yang akan dilaksanakan. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Perannya yang khas adalah dalam hal menumbuhkan gairah, merasa senang, dan semangat untuk belajar.
b. Prinsip Motivasi
Prinsip-prinsip motivasi adalah memberi penguatan, sokongan dan arahan pada pelaku yang erat kaitannya dengan prinnsip-prinsip dalam pembelajaran yang telah ditemui para ahli ilmu belajar. Masalah pokok yang dihadapi mengenai belajar adalah proses belajar. Karena belajar merupakan suatu proses yang rumit dan unik. Kita hanya mengamati prilaku belajarnya, dan hanya dapat mengamati terjadi perubahan prilaku tersebut setelah dilakukan penelitian.
c. Ciri-ciri motivasi
Menurut Sardiman ciri-ciri motivasi yang ada pada diri seseorang adalah
1) Tekun dalam menghadapi tugas.
2) Ulet menghadapai kesulitan.
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4) Lebih senang bekerja mandiri.
5) Cepat bosan dengan tugas-tugas yang rutin.
6) Dapat mempertahankan pendapatnya.
7) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.
8) Senang mencari dan memecahkan masalah.
Dan Arden N. Frandsen mengatakan bahwa, hal yang mendorong seseorang itu untuk belajar antara lain sebagai berikut.
1) Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas;
2) Adanya sifat kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;
3) Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman;
4) Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan di masa yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetensi;
5) Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman;
6) Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.
d. Pembagian Motivasi
Jika dilihat dari sumbernya, maka motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik (Intrinsic Motivation) dan motivasi ekstrinsik (Ekstrinsic Motivation).
1) Motivasi Intrinsik (Intrinsic Motivation)
Menurut Sardiman, motivasi intrinsik ini adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut Santrock, motivasi instrinsik adalah keinginan dari dalam diri untuk menjadi kompeten dan melakukan sesuatu demi usaha itu sendiri. Dan dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsik itu semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam proses belajar motivasi intrinsik memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena motivasi intrinsik relatif lebih lama.
Menurut Arden N. Frandsen, yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah
a) Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas,
b) Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju,
c) Adanya keinginan untuk mencapai prestasi,
d) Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
2) Motivasi Ekstrinsik (Ekstrinsic Motivation).
Menurut Sardiman, motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Dan menurut Santrock, motivasi ekstrinsik adalah keinginan untuk mencapai sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan penghargaan atau menghindari hukuman. Maka motivasi eksrinsik itu juga disebut faktor dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, dan lainnya.
Beberapa motivasi belajar ekstrinsik menurut Winkel di antaranya adalah, sebagai berikut.
a) Belajar demi memenuhi kewajiban.
b) Belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan.
c) Belajar demi memperoleh hadiah materil yang disajikan.
d) Belajar demi meningkatkan gengsi.
e) Belajar demi memperoleh pujian dari orang.
f) Belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang.
Maka motivasi intrinsik dan ekstrinsik inilah yang akan dikembangkan oleh peneliti, khususnya motivasi dalam belajar matematika.
e. Fungsi Motivasi
Sardiman mengemukakan beberapa fungsi motivasi dalam proses pembelajaran :
1) Mendorong manusia untuk berbuat atau melakukan sesuatu
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah mana tujuan yang akan dicapai
3) Memiliki strategi untuk mencapai sukses
4) Membuat siswa berani berpartisipasi
5) Membangkitkan hasrat ingin tahu pada siswa
6) Menyempurnakan perhatian siswa
Di samping itu Hamzah B. Uno mengatakan, hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa petunjuk yang meliputi :
1) Adanya hasrat dan keinginan berhasil
2) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar
3) Adanya harapan dan cita-cita masa depan
4) Adanya penghargaan dalam belajar
5) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar
6) Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.
Minggu, 20 November 2011
Strategi Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
Abu Ahmadi mengatakan bahwa “Secara umum strategi mempunyai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.” Sesuai dengan pernyataan Hartono dalam bukunya menyatakan bahwa, “Strategi Pembelajaran adalah pola umum perbuatan guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.” Dengan demikian, strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dilakukan seorang guru dalam pembelajaran dari awal sampai akhir pembelajaran.
Strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang dapat memotivasi belajar siswa dimana kekurangan yang mungkin terjadi dapat diminimalisirkan. Piaget dalam lie menyatakan bahwa pengetahuan fisik dan logika matematika tidak secara utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Pengetahuan itu harus dikonstruksikan oleh siswa sendiri.
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu : (1) penjelasan materi; (2) belajar dalam kelompok; (3) penilaian; dan (4) pengakuan tim. Namun, prosedur ini dikembangkan dan dilaksanakan sesuai dengan tipe-tipe dalam pembagian strategi pembelajaran kooperatif. Menurut Noraini Idris pembelajaran kooperatif lebih kondusif diterapkan dan mempunyai banyak kesan positif dalam aspek pengajaran dan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif dibedakan atas beberapa tipe, salah satunya adalah tipe Student Teams Achievement Division (STAD). STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas Hopkin, dan merupakan tipe dalam pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
Menurut Slavin (1995) pembelajaran kooperatif tipe STAD ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Langkah-langkahnya yaitu :
a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain)
b. Guru menyajikan pelajaran dan memotivasi siswa
c. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
e. Memberi evaluasi dan penghargaan
f. Kesimpulan
Adapun pemberian penghargaan dalam langkah-langkah tersebut, sesuai dengan salah satu teori yang terkenal kegunaannya untuk menerangkan motivasi siswa yang dikembangkan oleh Maslow, diantaranya kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan, Aktualisasi diri dan mengetahui dan mengerti.
Sama halnya dengan model Time Continuum, Strategi kooperatif tipe STAD ini juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Adapun kelebihannya yaitu :
a. Mengajarkan siswa menjadi percaya diri.
b. Mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya.
c. Mendorong siswa untuk tetap berbuat dan mengidentifikasi pemahamannya.
d. Dapat memberikan kesempatan pada para siswa belajar keterampilan bertanya dan mengomentari suatu masalah.
e. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan diskusi.
f. Memudahkan siswa melakukan interaksi sosial.
g. Menghargai ide orang lain yang dirasa lebih baik.
h. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
Sedangkan kelemahan tipe STAD ini, yaitu :
a. Beberapa siswa mungkin pada awalnya segan mengeluarkan ide, takut dinilai temannya dalam kelompok.
b. Tidak semua siswa yang memahami cara belajar kelompok ini dan memerlukan waktu yang lebih lama.
c. Penilaian terhadap siswa sebagai individu menjadi sulit karena tersembunyi di belakang kelompoknya.
Strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang dapat memotivasi belajar siswa dimana kekurangan yang mungkin terjadi dapat diminimalisirkan. Piaget dalam lie menyatakan bahwa pengetahuan fisik dan logika matematika tidak secara utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Pengetahuan itu harus dikonstruksikan oleh siswa sendiri.
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu : (1) penjelasan materi; (2) belajar dalam kelompok; (3) penilaian; dan (4) pengakuan tim. Namun, prosedur ini dikembangkan dan dilaksanakan sesuai dengan tipe-tipe dalam pembagian strategi pembelajaran kooperatif. Menurut Noraini Idris pembelajaran kooperatif lebih kondusif diterapkan dan mempunyai banyak kesan positif dalam aspek pengajaran dan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif dibedakan atas beberapa tipe, salah satunya adalah tipe Student Teams Achievement Division (STAD). STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas Hopkin, dan merupakan tipe dalam pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
Menurut Slavin (1995) pembelajaran kooperatif tipe STAD ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Langkah-langkahnya yaitu :
a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain)
b. Guru menyajikan pelajaran dan memotivasi siswa
c. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
e. Memberi evaluasi dan penghargaan
f. Kesimpulan
Adapun pemberian penghargaan dalam langkah-langkah tersebut, sesuai dengan salah satu teori yang terkenal kegunaannya untuk menerangkan motivasi siswa yang dikembangkan oleh Maslow, diantaranya kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan, Aktualisasi diri dan mengetahui dan mengerti.
Sama halnya dengan model Time Continuum, Strategi kooperatif tipe STAD ini juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Adapun kelebihannya yaitu :
a. Mengajarkan siswa menjadi percaya diri.
b. Mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya.
c. Mendorong siswa untuk tetap berbuat dan mengidentifikasi pemahamannya.
d. Dapat memberikan kesempatan pada para siswa belajar keterampilan bertanya dan mengomentari suatu masalah.
e. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan diskusi.
f. Memudahkan siswa melakukan interaksi sosial.
g. Menghargai ide orang lain yang dirasa lebih baik.
h. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
Sedangkan kelemahan tipe STAD ini, yaitu :
a. Beberapa siswa mungkin pada awalnya segan mengeluarkan ide, takut dinilai temannya dalam kelompok.
b. Tidak semua siswa yang memahami cara belajar kelompok ini dan memerlukan waktu yang lebih lama.
c. Penilaian terhadap siswa sebagai individu menjadi sulit karena tersembunyi di belakang kelompoknya.
Sabtu, 19 November 2011
WADAH PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU
A. Fungsi organisasi profesi kependidikan
Organisasi profesi kependidikan selain sebagai sebagai ciri suatu profesi kependidikan, sekaligus juga memiliki fungsi tersendiri yang bermanfaat bagi anggotanya. Fungsi organisasi profesi kependidikan antara lain yaitu :
1) Fungsi pemersatu
Kelahiran suatu organisasi profesi ngi oleh di latarbelakagi oleh berbagai motif. Motif tersebut merupakan tantangan bagi pengembangan suatu profesi, yang secara teoritis sulit dihadapi dan diselesaikan secara individual. Kesadaran atas realitas ini menyebabkan para professional membentuk organisasi . demikian pula organisasi profesi kependidikan merupakan organisasi profesi sebagai wadah pemersatu berbagai potensiprofesi kependidikan dalam menghadapi kompleksitas tantangan dan harapan masyarakat pengguna jasa kependidikan. Dengan pemersatuan profesi tersebut diharapkan organisasi profesi kependidikan memiliki kewibawaan dan kekuatan dalam menentukan kebijakan dan melakukan tindakan bersama, yaitu upaya untuk melindungi dan memperjuangkan kepentingan para penemban profesi kependidikan itu sendiri dan kepentingan masyarakatpengguna jasa profesi itu.
2) Fungsi peningkatan kemampuan professional
Fungsi ini secara jelas tertuang dalam PP no. 38 tahun 1992 pasal 61 yang berbunyi:
tenaga kependidikan dapat membentuk ikatan profesi sebagai wadah untuk meningkatkan dan mengembangkan karier, kemampuan, kewenangan professional, martabat dan kesejahteraan tenaga kependidikan.
Peraturan pemerintah tersebut menunjukan adanya legalitas formal yang secara tersirat mewajibkan para anggota profesi kependidikan untuk selalu meningkatkan kemampuan profesionalnyamelalui organisasi atau ikatan profesi kependidikan.tenaga kependidikan berkewajiban untuk berusaha mengembangkan kemampuan profesionalnya sesuai denan perkembangan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan bangsa.
B. Tujuan organisasi profesi kependidikan
Ada lima misi dan tujuan organisasi kependidikan yaitu
a. Meningkatkan dan/atau mengembangkan karier anggota
Merupakan upaya organisasi profesi kependidikan dalam mengembangkan karier anggota sesuai dengan bidang pekerjaan yang diembannya. Karier yang dimaksud adalah perwujudan diri seorang pengemban profesi secara psikofisis yang bermakna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain melalui serangkaian aktivitas.
b. Meningkatkan dan/atau mengembangkan kemampuan anggota
Merupakan upaya terwujudnya kompetensi kependidikan yang handal dalam diri tenaga kependidikan atau guru
c. Meningkatkan dan mengembangkan kewenangan profesional anggota
Merupakan upaya para professional untuk menempatkan anggota suatu profesi sesuai dengan kemampuannya.
d. Meningkatkan dan/atau mengembangkan martabat anggota
Merupakan upaya organisasi profesi kependidikanagar anggotanya terhindar dari perlakuan tidak manusiawidari pihak lain dan tidak melakukan praktik yang melecehkan nilai-nilai kemanusian.
e. Meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan anggota
Merupakan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan lahir batin anggotanya.
d.prasyarat pengembangan manajemen kelembagaan pendidikan
adapun prasyarat pengembangan manajemen kelembagaan pendidikan yaitu:
1. Pemahaman posisi diri,berupa kekuatan-kekuatan , kelemahan-kelemahan,peluang-peluang, dan ancaman-ancaman untuk menciptakan kesesuaian antara institusi dengan lingkungan.
2. Kemampuan mengakomodasikan dinamika lingkungan.
3. Pembuatan keputusan strategik berupa kemampuan membuat pilihan-pilihan keputusan optimal.
4. Penguasaan dimensi-dimensi strategic berupa relasi antara lembaga pendidikan dengan lingkungannya.
5. Pembelajaran strategik dimana proses institusional belajar dari sukses dan kegagalan untuk tujuan mendesain perencanaan dan manajemen srtategik ke depan.
6. Manajemen strategik yaitu jaminan bahwa perhatian dan focus kerja institusi diterapkan untuk memelihara sinergi optimal dengan lingkungannya.
7. Perencanaan strategik yaitu proses formal yang didisain untuk membantu organisasi mengidentifikasi dan memelihara sinergi optimal dengan lingkungannya.
8. Berpikir strategic berupa pilihan-pilihan alur berpikir melalui proses membuka pemikiran-pemikiran institusional untuk sebuah rentang alternative dan keputusan yang mampu secara kuat menautkan dimensi-dimensi institusi, sumber-sumber dan lingkungannya.
9. Strategi yaitu siasat kerja dari setiap tindakan dan arahan untuk menjamin relasi yang optimal antara institusi dengan lingkingannya.
C. Bentuk wadah pengembangan kompetensi guru
A. PGRI
PGRI merupakan salah satu wadah pengembangan kompetensi guru yang keanggotaannya terbesar di Indonesia. pgri adalah organisasi yang bersifat:(1)unitaristik tanpa memandangperbedaan ijazah, tempat bekerja, kedudukan, suku, agama dll. (2)independen yang berlandaskan pada prinsip kemandirian organisasi dengan mengutamakan kemitrasejajaran dengan berbagai pihak. (3)tidak berpolitik praktis yang tidak terikat dan atau mampu mengikatkan diri pada kekuatan organisasi/partai politik manapun.
a. Sejarah pgri
PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia –Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
b. misi PGRI
Ada empat misi utama pgri yaitu:
1. misi politis/ideology
2. misi persatuan oranisaturis
3. misi profesi
4. misi kesejahteraan
peranan pgri dalam penembangan professional guru sampai saat ini masih mengandalkan pihak pemerintah, misalnya dalam merencanakan dan melakukan program-program penataran guru serta program peningkatan mutu lainnya. Pgri belum banyak merencanakan dan melakukan program atau kegiatan yang berkaitan dengan perbaikan cara mengajar.peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru, peningkatan kualifikasi guru, atau melakukan penelitian ilmiah tentang masalah-masalah professional yang dihadapi oleh para guru dewasa ini.
B. Lembaga pendidikan tenaga kependidikan (Lptk)
Lembaga pendidikan tenaga kependidikan (Lptk)sebagai suatu lembaga pendidikan guru tingkay universitasmempunyai fungsi pokok dalam rangka mempersiapkan para calon guru yang kelak mampu yang mampu melakukan tugasnya.
Sejarah lptk
beberapa peranan lptk yaitu:
a. Mempersiapkan para calon guru
b. Menyelenggarakan kelas parallel
c. Program kuliah padat
d. Program internsip
e. Membantu paningkatan universitas swasta
D.Ragam bentuk partisipasi guru
Sebuah organisasi profesi merupakan wadah bagi para anggotanya untuk melakukan komunikasi professional.eksistensi dan identitas sebuah profesi dapat diperkokohmelalui berbagai bentuk kegiatan professional yang dilakukan melalui organisasi profesi. Oleh karena itu, partisipasi aktifdari sluruh anggota profesi akan sangat membantumemperkokoh eksistensi dan identitas sebuah profesi di masyarakat. Bebtuk partisipasi anggota tidak sebatas terdaftarmenjadi anggota dengan memberikansejumlah iuran rutin, namun lebih dalam bentuk nyata yan bersifat professional guru/kependidikan bisa berupa:
1. Aktif mengkomunikasikan berbagai pikiran dan pengalaman yang mengarah kepada pembaharuan dan pembaharuan dan perbaikan mutu pendidikan. Komunikasi ini bisa dalam bentuk seminar, symposium, dan sejenisnya atau komunikasi tertulis dalam bentuk jurnal profesi atau media lainnya.
2. Secara aktif melakukan evaluasi diri, baik secara perorangan maupun kelompok dalam hal praktek-praktek professional(pendidikan) mengacu kepada standar profesi yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi. Setiap profesi mesti memiliki standar profesi dan stantar itu dijadikan patokan bagi praktik dan layanan profesi di masyarakat.
3. Bentuk partisipasi lain yang lebih menyangkut kepada sei internal pribadi guru itu sendiri. Partisipasimini ialah dalam bentuk mewujudkan perilaku dan sikap professional dalam kehidupan dan lingkungan kerja guru. Ini merupakan partisipasi ke dalam diri tetapi memiliki dampak besar terhadap organisasi profesi.
Organisasi profesi kependidikan selain sebagai sebagai ciri suatu profesi kependidikan, sekaligus juga memiliki fungsi tersendiri yang bermanfaat bagi anggotanya. Fungsi organisasi profesi kependidikan antara lain yaitu :
1) Fungsi pemersatu
Kelahiran suatu organisasi profesi ngi oleh di latarbelakagi oleh berbagai motif. Motif tersebut merupakan tantangan bagi pengembangan suatu profesi, yang secara teoritis sulit dihadapi dan diselesaikan secara individual. Kesadaran atas realitas ini menyebabkan para professional membentuk organisasi . demikian pula organisasi profesi kependidikan merupakan organisasi profesi sebagai wadah pemersatu berbagai potensiprofesi kependidikan dalam menghadapi kompleksitas tantangan dan harapan masyarakat pengguna jasa kependidikan. Dengan pemersatuan profesi tersebut diharapkan organisasi profesi kependidikan memiliki kewibawaan dan kekuatan dalam menentukan kebijakan dan melakukan tindakan bersama, yaitu upaya untuk melindungi dan memperjuangkan kepentingan para penemban profesi kependidikan itu sendiri dan kepentingan masyarakatpengguna jasa profesi itu.
2) Fungsi peningkatan kemampuan professional
Fungsi ini secara jelas tertuang dalam PP no. 38 tahun 1992 pasal 61 yang berbunyi:
tenaga kependidikan dapat membentuk ikatan profesi sebagai wadah untuk meningkatkan dan mengembangkan karier, kemampuan, kewenangan professional, martabat dan kesejahteraan tenaga kependidikan.
Peraturan pemerintah tersebut menunjukan adanya legalitas formal yang secara tersirat mewajibkan para anggota profesi kependidikan untuk selalu meningkatkan kemampuan profesionalnyamelalui organisasi atau ikatan profesi kependidikan.tenaga kependidikan berkewajiban untuk berusaha mengembangkan kemampuan profesionalnya sesuai denan perkembangan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan bangsa.
B. Tujuan organisasi profesi kependidikan
Ada lima misi dan tujuan organisasi kependidikan yaitu
a. Meningkatkan dan/atau mengembangkan karier anggota
Merupakan upaya organisasi profesi kependidikan dalam mengembangkan karier anggota sesuai dengan bidang pekerjaan yang diembannya. Karier yang dimaksud adalah perwujudan diri seorang pengemban profesi secara psikofisis yang bermakna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain melalui serangkaian aktivitas.
b. Meningkatkan dan/atau mengembangkan kemampuan anggota
Merupakan upaya terwujudnya kompetensi kependidikan yang handal dalam diri tenaga kependidikan atau guru
c. Meningkatkan dan mengembangkan kewenangan profesional anggota
Merupakan upaya para professional untuk menempatkan anggota suatu profesi sesuai dengan kemampuannya.
d. Meningkatkan dan/atau mengembangkan martabat anggota
Merupakan upaya organisasi profesi kependidikanagar anggotanya terhindar dari perlakuan tidak manusiawidari pihak lain dan tidak melakukan praktik yang melecehkan nilai-nilai kemanusian.
e. Meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan anggota
Merupakan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan lahir batin anggotanya.
d.prasyarat pengembangan manajemen kelembagaan pendidikan
adapun prasyarat pengembangan manajemen kelembagaan pendidikan yaitu:
1. Pemahaman posisi diri,berupa kekuatan-kekuatan , kelemahan-kelemahan,peluang-peluang, dan ancaman-ancaman untuk menciptakan kesesuaian antara institusi dengan lingkungan.
2. Kemampuan mengakomodasikan dinamika lingkungan.
3. Pembuatan keputusan strategik berupa kemampuan membuat pilihan-pilihan keputusan optimal.
4. Penguasaan dimensi-dimensi strategic berupa relasi antara lembaga pendidikan dengan lingkungannya.
5. Pembelajaran strategik dimana proses institusional belajar dari sukses dan kegagalan untuk tujuan mendesain perencanaan dan manajemen srtategik ke depan.
6. Manajemen strategik yaitu jaminan bahwa perhatian dan focus kerja institusi diterapkan untuk memelihara sinergi optimal dengan lingkungannya.
7. Perencanaan strategik yaitu proses formal yang didisain untuk membantu organisasi mengidentifikasi dan memelihara sinergi optimal dengan lingkungannya.
8. Berpikir strategic berupa pilihan-pilihan alur berpikir melalui proses membuka pemikiran-pemikiran institusional untuk sebuah rentang alternative dan keputusan yang mampu secara kuat menautkan dimensi-dimensi institusi, sumber-sumber dan lingkungannya.
9. Strategi yaitu siasat kerja dari setiap tindakan dan arahan untuk menjamin relasi yang optimal antara institusi dengan lingkingannya.
C. Bentuk wadah pengembangan kompetensi guru
A. PGRI
PGRI merupakan salah satu wadah pengembangan kompetensi guru yang keanggotaannya terbesar di Indonesia. pgri adalah organisasi yang bersifat:(1)unitaristik tanpa memandangperbedaan ijazah, tempat bekerja, kedudukan, suku, agama dll. (2)independen yang berlandaskan pada prinsip kemandirian organisasi dengan mengutamakan kemitrasejajaran dengan berbagai pihak. (3)tidak berpolitik praktis yang tidak terikat dan atau mampu mengikatkan diri pada kekuatan organisasi/partai politik manapun.
a. Sejarah pgri
PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia –Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
b. misi PGRI
Ada empat misi utama pgri yaitu:
1. misi politis/ideology
2. misi persatuan oranisaturis
3. misi profesi
4. misi kesejahteraan
peranan pgri dalam penembangan professional guru sampai saat ini masih mengandalkan pihak pemerintah, misalnya dalam merencanakan dan melakukan program-program penataran guru serta program peningkatan mutu lainnya. Pgri belum banyak merencanakan dan melakukan program atau kegiatan yang berkaitan dengan perbaikan cara mengajar.peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru, peningkatan kualifikasi guru, atau melakukan penelitian ilmiah tentang masalah-masalah professional yang dihadapi oleh para guru dewasa ini.
B. Lembaga pendidikan tenaga kependidikan (Lptk)
Lembaga pendidikan tenaga kependidikan (Lptk)sebagai suatu lembaga pendidikan guru tingkay universitasmempunyai fungsi pokok dalam rangka mempersiapkan para calon guru yang kelak mampu yang mampu melakukan tugasnya.
Sejarah lptk
beberapa peranan lptk yaitu:
a. Mempersiapkan para calon guru
b. Menyelenggarakan kelas parallel
c. Program kuliah padat
d. Program internsip
e. Membantu paningkatan universitas swasta
D.Ragam bentuk partisipasi guru
Sebuah organisasi profesi merupakan wadah bagi para anggotanya untuk melakukan komunikasi professional.eksistensi dan identitas sebuah profesi dapat diperkokohmelalui berbagai bentuk kegiatan professional yang dilakukan melalui organisasi profesi. Oleh karena itu, partisipasi aktifdari sluruh anggota profesi akan sangat membantumemperkokoh eksistensi dan identitas sebuah profesi di masyarakat. Bebtuk partisipasi anggota tidak sebatas terdaftarmenjadi anggota dengan memberikansejumlah iuran rutin, namun lebih dalam bentuk nyata yan bersifat professional guru/kependidikan bisa berupa:
1. Aktif mengkomunikasikan berbagai pikiran dan pengalaman yang mengarah kepada pembaharuan dan pembaharuan dan perbaikan mutu pendidikan. Komunikasi ini bisa dalam bentuk seminar, symposium, dan sejenisnya atau komunikasi tertulis dalam bentuk jurnal profesi atau media lainnya.
2. Secara aktif melakukan evaluasi diri, baik secara perorangan maupun kelompok dalam hal praktek-praktek professional(pendidikan) mengacu kepada standar profesi yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi. Setiap profesi mesti memiliki standar profesi dan stantar itu dijadikan patokan bagi praktik dan layanan profesi di masyarakat.
3. Bentuk partisipasi lain yang lebih menyangkut kepada sei internal pribadi guru itu sendiri. Partisipasimini ialah dalam bentuk mewujudkan perilaku dan sikap professional dalam kehidupan dan lingkungan kerja guru. Ini merupakan partisipasi ke dalam diri tetapi memiliki dampak besar terhadap organisasi profesi.
Sabtu, 12 November 2011
Renungan Kisah Inspiratif Muslimah
Teruntukmu Calon imam-ku
Wahai calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Pimpinlah rumah tangga kita dengan sebaik-baiknya
Jadikan aku teman sejatimu,
tempat engkau bersandar
Terbukalah padaku,
kan kujaga semua rahasiamu
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Jadilah engkau teladan yang baik bagi keluarga
Sempatkanlah untuk menjadi imam dalam sholat
Hiasilah rumah kita dengan ketakwaan kepada Allah
Amalkan sunnah Rasul sekuat yang kau mampu
Bimbinglah anak-anak kita
menjadi pribadi Muslim yang cerdas dan berakhlak mulia
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Bergaullah dengan ma’ruf terhadapku
Jadilah engkau suami yang penyayang dan sabar
Janganlah kau bertindak aniaya terhadapku
Jika aku berbuat kesalahan dan kemungkaran…
Jangan kau hukum aku dengan memukul aku
Tapi, ajarilah aku dengan hati dan lisanmu
Ingatkanlah aku dengan cara yang ihsan
Tahan amarahmu dan bersikaplah pemaaf
Sayangi dan hormati orang tuaku, juga saudara-saudaraku
Jika ada yang tidak kau sukai dari mereka,
simpanlah rasa itu
Dan tetaplah kau jaga silaturrahim dengan mereka
Jangan pula kau jauhi mereka
karena selamanya mereka adalah keluargaku
Wahai calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak
Jadilah engkau suami yang bertanggung jawab
Berilah nafkah sesuai kemampuanmu
Pasti kuterima dengan qona’ah
Bersikaplah penyantun
dan jangan kau kikir terhadapku
Jangan pula kau tinggalkan aku dalam waktu lama
Sehingga kau abaikan kebutuhanku akan kehadiranmu
Jika kau menjadi suamiku kelak
Bersikaplah bijaksana dalam segala hal
Bermusyarahlah denganku sebelum mengambil keputusan
Dengarkan pemikiranku
dan jangan kau remehkan aku
Tunjukkan kasih sayangmu terhadapku
Jangan kau biarkan aku dalam kecemburuan dan prasangka
Jagalah hatiku,
lapangkanlah dadaku, dengan cintamu
Wahai calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak
Jadikan rumah tangga kita sebagai surga dunia bagimu
Jagalah aku dan jadilah pelindung bagi anak-anak kita
Jagalah rahasia rumah tangga dimanapun kau berada
Jadikan ia baju putihmu, jagalah ia jangan sampai ternoda
Wahai calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Pimpinlah rumah tangga kita dengan sebaik-baiknya
Jadikan aku teman sejatimu,
tempat engkau bersandar
Terbukalah padaku,
kan kujaga semua rahasiamu
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Jadilah engkau teladan yang baik bagi keluarga
Sempatkanlah untuk menjadi imam dalam sholat
Hiasilah rumah kita dengan ketakwaan kepada Allah
Amalkan sunnah Rasul sekuat yang kau mampu
Bimbinglah anak-anak kita
menjadi pribadi Muslim yang cerdas dan berakhlak mulia
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Bergaullah dengan ma’ruf terhadapku
Jadilah engkau suami yang penyayang dan sabar
Janganlah kau bertindak aniaya terhadapku
Jika aku berbuat kesalahan dan kemungkaran…
Jangan kau hukum aku dengan memukul aku
Tapi, ajarilah aku dengan hati dan lisanmu
Ingatkanlah aku dengan cara yang ihsan
Tahan amarahmu dan bersikaplah pemaaf
Sayangi dan hormati orang tuaku, juga saudara-saudaraku
Jika ada yang tidak kau sukai dari mereka,
simpanlah rasa itu
Dan tetaplah kau jaga silaturrahim dengan mereka
Jangan pula kau jauhi mereka
karena selamanya mereka adalah keluargaku
Wahai calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak
Jadilah engkau suami yang bertanggung jawab
Berilah nafkah sesuai kemampuanmu
Pasti kuterima dengan qona’ah
Bersikaplah penyantun
dan jangan kau kikir terhadapku
Jangan pula kau tinggalkan aku dalam waktu lama
Sehingga kau abaikan kebutuhanku akan kehadiranmu
Jika kau menjadi suamiku kelak
Bersikaplah bijaksana dalam segala hal
Bermusyarahlah denganku sebelum mengambil keputusan
Dengarkan pemikiranku
dan jangan kau remehkan aku
Tunjukkan kasih sayangmu terhadapku
Jangan kau biarkan aku dalam kecemburuan dan prasangka
Jagalah hatiku,
lapangkanlah dadaku, dengan cintamu
Wahai calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak
Jadikan rumah tangga kita sebagai surga dunia bagimu
Jagalah aku dan jadilah pelindung bagi anak-anak kita
Jagalah rahasia rumah tangga dimanapun kau berada
Jadikan ia baju putihmu, jagalah ia jangan sampai ternoda
Pendekatan dalam Penelitian
Dalam penelitian ada 2 macam pendekatan:
1. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif adalah pendekatan secara teoritik untuk mendapatkan konfirmasi berdasarkan hipotesis dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Suatu hipotesis lahir dari sebuah teori, lalu hipotesis ini diuji dengan dengan melakukan beberapa observasi. Hasil dari observasi ini akan dapat memberikan konfirmasi tentang sebuah teori yang semula dipakai untuk menghasilkan hipotesis. Langkah penelitian seperti ini biasa juga disebut pendekatan ‘dari atas ke bawah’.
2. Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif adalah pendekatan yang dilakukan untuk membangun sebuah teori berdasarkan hasil pengamatan atau observasi. Suatu observasi yang dilakukan berkali-kali akan membentuk sebuah pola tertentu. Dari pola tersebut akan lahir hipotesis sementara atau hipotesis tentatif. Hipotesis yang terbentuk berasal dari pola pengamatan yang dilakukan. Setelah dilakukan berulang-ulang, barulah diperoleh sebuah teori. Langkah penelitian seperti ini disebut sebagai pendekatan ’dari bawah ke atas’.
Di negara berkembang seperti Indonesia, penelitian dengan pendekatan induktif ini lebih sering dilakukan daripada pendekatan deduktif.
Penelitian dengan metode ilmiah merupakan gabungan dari pendekatan deduktif dan pendekatan induktif. Penentuan hipotesis merupakan proses deduktif, mengumpulkan data adalah proses induktif sedangkan menentukan data yang diambil dan diteliti merupakan proses deduktif.
Berikutnya adalah langkah tahapan riset. Ada sebuah istilah yang disebut “Jam Gelas“. Istilah ini memberikan gambaran gagasan atau langkah dalam riset. Langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Sebuah penelitian diawali dengan pertanyaan yang umum/luas. Cakupannya secara global.
b. Dari pertanyaan yang umum tadi, pertanyaan selanjutnya dipersempit untuk mendapatkan sesuatu yang lebih spesifik.
c. Fokus dalam mengoperasionalkan penelitian.
d. Melakukan observasi.
e. Dari hasil observasi dialakukan analisa data.
f. Hasil analisa data dapat memberikan suatu kesimpulan.
g. Setelah diperoleh kesimpulan dari penelitian, kita kembalikan ke pertanyaan penelitian di awal. Apakah kesimpulan yang diperoleh telah menjawab pertanyaan penelitian. Jika kesimpulan belum dapat menjawab pertanyaan penelitian, maka langkah riset yang dilakukan dianggap gagal. Dan begitu juga sebaliknya, hendaknya suatu kesimpulan adalah solusi dari pertanyaan penelitian.
Metoda Ilmiah dalam Praktek
Seorang peneliti dalam melakukan penelitiannya harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah, yaitu mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya. Pertanyaan penelitian haruslah memandu peneliti untuk melakukan tahapan penelitian berikutnya. Pertanyaan penelitian sedapat mungkin dibuat seringkas mungkin.
2. Melakukan verifikasi data, yaitu mengumpulkan segala macam informasi untuk menjawab pertanyaan penelitian atau menyelesaikan masalah dengan melakukan observasi.
3. Mengajukan hipotesis, yaitu memberikan jawaban sementara dari pertanyaan penelitian.
4. Hipotesis yang diperoleh selanjutnya diuji.
5. Hasil dari pengujian hipotesis ini adalah membuang hipotesis yang gagal uji dan mencari kembali hipotesis baru untuk diuji kembali kebenaran hipotesis tersebut.
6. Selanjutnya adalah membangun teori atau hukum yang diperoleh dari pengujian hipotesis yang benar untuk menjawab permasalahan atau pertanyaan penelitian.
Logika dan Evolusi Teori Saintifik
Sains tentang alam termasuk sosial selalu diawali dengan ‘masalah’. Masalah yang dimaksudkan disini bukanlah masalah yang berkonotasi negatif. Masalah secara awam selalu diartikan sebagai kesulitan. Maksud masalah disini adalah segala sesuatu yang butuh jawaban yang dapat diterima oleh nalar dan logika. Contoh: suatu benda jatuh dari atas ke bawah. Dilihat dari sisi awam suatu benda ini terlihat biasa-biasa saja dan tidak mengalami masalah. Sementara di pandang dari sisi sains suatu benda ini mengalami suatu masalah yaitu kenapa jatuh itu mesti ke bawah, kenapa tidak ke atas atau lain sebagai. Secara ilmiah jawaban dapat dijelaskan oleh hukum gravitasi.
Suatu masalah haruslah dapat diselesaikan. Suatu masalah dapat diselesaikan dengan menggunakan metoda ilmiah yang mendasar yaitu trial and error. Metoda trial and error adalah suatu metoda yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan melakukan percobaan yang sangat banyak. Secara harfiah trial and error artinya adalah coba-coba. Dalam metoda ilmiah metoda trial and error ini tidak dapat diartikan coba-coba karena kata coba-coba mengandung unsur spekulatif. Tingkat keberhasilannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sementara istilah trial and error ini bermakna melakukan percobaan dengan sangat banyak dan menyingkirkan eksperimen yang gagal dilanjutkan dengan percobaan yang baru dengan berpatokan pada percobaan yang gagal sebelumnya. Singkatnya bisa dikatakan belajar dari kesalahan.
Metode ilmiah ini mempunyai 2 model yaitu model tiga tahap dan model empat tahap. Model tiga tahap yaitu:
1. The Problem (Masalah)
Tahap ini adalah perumusan masalah yang ditimbulkan oleh gejala-gejala muncul dari suatu kejadian. Memandang suatu kejadian tersebut tidak sebagai suatu kesulitan, tetapi sebagai sesuatu yang mesti dijawab dengan logis.
2. The Attempted solution (Penyelesaian yang dicoba)
Menyelesaikan sesuatu masalah yang telah dirumuskan dengan penyelesaian yang dicobakan. Artinya kita memakai metoda trial and error. Mencoba menyelesaikan permasalahan yang telah dirumuskan dengan sangat banyak. Mencoba lagi dan mencoba lagi.
3. The Elimination (Penyisihan)
Penyelesaian yang tidak berhasil dari metoda trial and error tersebut disingkirkan.
Selanjutnya model empat tahap yaitu:
1. The old problem (Masalah lama)
Hampir sama dengan model tiga tahap, namun bedanya adalah pada model empat tahap masalah dipandang dua bentuk yaitu masalah lama dan masalah baru. Masalah lama dipandang sebagai masalah yang telah tersisih.
2. Formation of tentative theories (Pembentukan teori yang sementara)
Dari masalah yang muncul tersebut dapat dibentuk teori sementara untuk dilakukan pengujian berikutnya.
3. Attempts at elimination through critical discussion, including experimental testing (Penyisihan melalui diskusi kritis, termasuk pengujian eksperimen)
Kembali menyingkirkan penyelesaian yang tidak dapat menjawab teori sementara yang terbentuk sebelumnya. Pada tahap ini dilakukan berbagai macam pengujian untuk menguji teori sebelumnya termasuk pengujian eksperimen.
4. The new problem that arise from the critical discussion of our theories (Perumusan masalah baru yang timbul dari diskusi kritis terhadap teori yang dirumuskan)
Terbentuknya masalah baru dan kembali dirumuskan masalah baru tersebut sebagai hasil dari diskusi kritis yang telah dilakukan terhadap teori yang telah dirumuskan sebelumnya.
Dari model yang dihadirkan di atas, sangat memungkinkan model tersebut untuk melakukan kegiatan ilmiah dalam memperoleh jawaban dari masalah yang ada. Masalah pra ilmiah dan masalah ilmiah diawali dengan pengalaman praktis di alam, tapi dengan model empat tahap pengalaman praktis bisa diganti dengan masalah teoritis. Dengan kata lain kebanyakan masalah muncul dari teori yang kritis.
1. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif adalah pendekatan secara teoritik untuk mendapatkan konfirmasi berdasarkan hipotesis dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Suatu hipotesis lahir dari sebuah teori, lalu hipotesis ini diuji dengan dengan melakukan beberapa observasi. Hasil dari observasi ini akan dapat memberikan konfirmasi tentang sebuah teori yang semula dipakai untuk menghasilkan hipotesis. Langkah penelitian seperti ini biasa juga disebut pendekatan ‘dari atas ke bawah’.
2. Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif adalah pendekatan yang dilakukan untuk membangun sebuah teori berdasarkan hasil pengamatan atau observasi. Suatu observasi yang dilakukan berkali-kali akan membentuk sebuah pola tertentu. Dari pola tersebut akan lahir hipotesis sementara atau hipotesis tentatif. Hipotesis yang terbentuk berasal dari pola pengamatan yang dilakukan. Setelah dilakukan berulang-ulang, barulah diperoleh sebuah teori. Langkah penelitian seperti ini disebut sebagai pendekatan ’dari bawah ke atas’.
Di negara berkembang seperti Indonesia, penelitian dengan pendekatan induktif ini lebih sering dilakukan daripada pendekatan deduktif.
Penelitian dengan metode ilmiah merupakan gabungan dari pendekatan deduktif dan pendekatan induktif. Penentuan hipotesis merupakan proses deduktif, mengumpulkan data adalah proses induktif sedangkan menentukan data yang diambil dan diteliti merupakan proses deduktif.
Berikutnya adalah langkah tahapan riset. Ada sebuah istilah yang disebut “Jam Gelas“. Istilah ini memberikan gambaran gagasan atau langkah dalam riset. Langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Sebuah penelitian diawali dengan pertanyaan yang umum/luas. Cakupannya secara global.
b. Dari pertanyaan yang umum tadi, pertanyaan selanjutnya dipersempit untuk mendapatkan sesuatu yang lebih spesifik.
c. Fokus dalam mengoperasionalkan penelitian.
d. Melakukan observasi.
e. Dari hasil observasi dialakukan analisa data.
f. Hasil analisa data dapat memberikan suatu kesimpulan.
g. Setelah diperoleh kesimpulan dari penelitian, kita kembalikan ke pertanyaan penelitian di awal. Apakah kesimpulan yang diperoleh telah menjawab pertanyaan penelitian. Jika kesimpulan belum dapat menjawab pertanyaan penelitian, maka langkah riset yang dilakukan dianggap gagal. Dan begitu juga sebaliknya, hendaknya suatu kesimpulan adalah solusi dari pertanyaan penelitian.
Metoda Ilmiah dalam Praktek
Seorang peneliti dalam melakukan penelitiannya harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah, yaitu mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya. Pertanyaan penelitian haruslah memandu peneliti untuk melakukan tahapan penelitian berikutnya. Pertanyaan penelitian sedapat mungkin dibuat seringkas mungkin.
2. Melakukan verifikasi data, yaitu mengumpulkan segala macam informasi untuk menjawab pertanyaan penelitian atau menyelesaikan masalah dengan melakukan observasi.
3. Mengajukan hipotesis, yaitu memberikan jawaban sementara dari pertanyaan penelitian.
4. Hipotesis yang diperoleh selanjutnya diuji.
5. Hasil dari pengujian hipotesis ini adalah membuang hipotesis yang gagal uji dan mencari kembali hipotesis baru untuk diuji kembali kebenaran hipotesis tersebut.
6. Selanjutnya adalah membangun teori atau hukum yang diperoleh dari pengujian hipotesis yang benar untuk menjawab permasalahan atau pertanyaan penelitian.
Logika dan Evolusi Teori Saintifik
Sains tentang alam termasuk sosial selalu diawali dengan ‘masalah’. Masalah yang dimaksudkan disini bukanlah masalah yang berkonotasi negatif. Masalah secara awam selalu diartikan sebagai kesulitan. Maksud masalah disini adalah segala sesuatu yang butuh jawaban yang dapat diterima oleh nalar dan logika. Contoh: suatu benda jatuh dari atas ke bawah. Dilihat dari sisi awam suatu benda ini terlihat biasa-biasa saja dan tidak mengalami masalah. Sementara di pandang dari sisi sains suatu benda ini mengalami suatu masalah yaitu kenapa jatuh itu mesti ke bawah, kenapa tidak ke atas atau lain sebagai. Secara ilmiah jawaban dapat dijelaskan oleh hukum gravitasi.
Suatu masalah haruslah dapat diselesaikan. Suatu masalah dapat diselesaikan dengan menggunakan metoda ilmiah yang mendasar yaitu trial and error. Metoda trial and error adalah suatu metoda yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan melakukan percobaan yang sangat banyak. Secara harfiah trial and error artinya adalah coba-coba. Dalam metoda ilmiah metoda trial and error ini tidak dapat diartikan coba-coba karena kata coba-coba mengandung unsur spekulatif. Tingkat keberhasilannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sementara istilah trial and error ini bermakna melakukan percobaan dengan sangat banyak dan menyingkirkan eksperimen yang gagal dilanjutkan dengan percobaan yang baru dengan berpatokan pada percobaan yang gagal sebelumnya. Singkatnya bisa dikatakan belajar dari kesalahan.
Metode ilmiah ini mempunyai 2 model yaitu model tiga tahap dan model empat tahap. Model tiga tahap yaitu:
1. The Problem (Masalah)
Tahap ini adalah perumusan masalah yang ditimbulkan oleh gejala-gejala muncul dari suatu kejadian. Memandang suatu kejadian tersebut tidak sebagai suatu kesulitan, tetapi sebagai sesuatu yang mesti dijawab dengan logis.
2. The Attempted solution (Penyelesaian yang dicoba)
Menyelesaikan sesuatu masalah yang telah dirumuskan dengan penyelesaian yang dicobakan. Artinya kita memakai metoda trial and error. Mencoba menyelesaikan permasalahan yang telah dirumuskan dengan sangat banyak. Mencoba lagi dan mencoba lagi.
3. The Elimination (Penyisihan)
Penyelesaian yang tidak berhasil dari metoda trial and error tersebut disingkirkan.
Selanjutnya model empat tahap yaitu:
1. The old problem (Masalah lama)
Hampir sama dengan model tiga tahap, namun bedanya adalah pada model empat tahap masalah dipandang dua bentuk yaitu masalah lama dan masalah baru. Masalah lama dipandang sebagai masalah yang telah tersisih.
2. Formation of tentative theories (Pembentukan teori yang sementara)
Dari masalah yang muncul tersebut dapat dibentuk teori sementara untuk dilakukan pengujian berikutnya.
3. Attempts at elimination through critical discussion, including experimental testing (Penyisihan melalui diskusi kritis, termasuk pengujian eksperimen)
Kembali menyingkirkan penyelesaian yang tidak dapat menjawab teori sementara yang terbentuk sebelumnya. Pada tahap ini dilakukan berbagai macam pengujian untuk menguji teori sebelumnya termasuk pengujian eksperimen.
4. The new problem that arise from the critical discussion of our theories (Perumusan masalah baru yang timbul dari diskusi kritis terhadap teori yang dirumuskan)
Terbentuknya masalah baru dan kembali dirumuskan masalah baru tersebut sebagai hasil dari diskusi kritis yang telah dilakukan terhadap teori yang telah dirumuskan sebelumnya.
Dari model yang dihadirkan di atas, sangat memungkinkan model tersebut untuk melakukan kegiatan ilmiah dalam memperoleh jawaban dari masalah yang ada. Masalah pra ilmiah dan masalah ilmiah diawali dengan pengalaman praktis di alam, tapi dengan model empat tahap pengalaman praktis bisa diganti dengan masalah teoritis. Dengan kata lain kebanyakan masalah muncul dari teori yang kritis.
Langganan:
Postingan (Atom)